Interest Journalism
Di meja kerja, ia masih dapat menyusun kalimat dengan teratur. Ia mampu membedakan fakta dari dugaan, menguji informasi sebelum menerbitkannya, dan menjaga agar emosi tidak mengalahkan data. Namun, ketika berhadapan dengan luka sendiri, semuanya menjadi lebih rumit. Pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap rasa sakit.
Ia tetap bekerja. Berita harus selesai. Narasumber harus dihubungi. Peristiwa di lapangan tak akan berhenti hanya karena kehidupan pribadinya sedang berantakan. Dunia jurnalistik tidak menyediakan banyak ruang untuk seseorang menunggu sampai hatinya benar-benar pulih.
Maka ia menjalani hari-harinya dengan sesuatu yang tak selalu terlihat orang lain. Di tengah wawancara, ia menyimpan pertanyaan yang belum selesai. Di antara tenggat berita, ia berusaha mengendalikan pikiran yang kembali kepada pengkhianatan itu. Ia bisa menuliskan kesedihan seseorang dengan begitu rinci, tetapi tak mudah menjelaskan kesedihannya sendiri.
Ada ironi dalam kehidupan semacam itu. Ia terbiasa memberi ruang kepada orang lain untuk bercerita, tetapi belum tentu memiliki ruang yang sama untuk dirinya. Ia mendengarkan keluhan, mencatat penderitaan, dan menyaksikan orang-orang bertahan dalam keadaan sulit. Sementara itu, ia sendiri harus belajar bagaimana bertahan tanpa menjadikan lukanya sebagai alasan untuk melukai orang lain.
Pengkhianatan juga memaksanya menghadapi pertanyaan yang lebih besar: apakah cinta masih cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan ketika kepercayaan telah rusak?
Berita Terkait
Burung Bidadari Halmahera Semioptera Wallacii
Perilaku dan Pesona Tariannya Si Genit dari Maluku Utara ini memakan berbagai jenis serangga, hewan beruas-ruas lain seperti laba-laba, serta…
Napak Tilas Alfano Wiklif Susu: Dari PAC Maba, DPRD, hingga Sekretaris DPC Demokrat Haltim
Semua itu berlangsung dalam rentang usia yang relatif singkat. Alfano pergi ketika usianya baru 37 tahun. Usia yang bagi sebagian…
